sore itu aku memulai sesuatu yang tidak biasa aku lakukan. atau mungkin lebih spesifiknya---sesuatu yang tidak biasa dilakukan---oleh manusia - manusia milenial seperti aku : mensenggamai dunia nyata.
beruntunglah se-jagad alam raya ini terhadap power battery yang tidak seabadi kekuatan sinar matahari di alam ini. atau setidaknya begitu, sehingga kita masih bisa sedikitnya menghadapi dunia yang nyata.
sore itu aku baru memahaminya, ketika power battery gadget sibuk mengisi dayanya untuk memanjakan diriku kembali. aku rehat sejenak dari dunia yang fana itu dan mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi terhadap hal-hal kecil yang kurang ku perhatikan belakangan ini : yang pertama, aku kurang menyadari kalau dunia nyata ternyata menyediakan berbagai jenis fitur yang lebih nyata dan lebih atraktif daripada yang disediakan oleh dunia maya. tetangga yang saling berbincang, pedagang keliling yang dengan berbagai kemampuannya menawari barang dagangan mereka yang tidak sekedar icon kecil "click here" di pojok kanan atas windows, awan yang bergerak, tumbuhan yang bisa kamu petik dan kamu ciumi aromanya, banyak.
dan yang kedua, aku tidak menyadari kalau ternyata paman ku memelihara burung kecil. burung itu lengkap dengan sangkarannya ada di halaman sepanjang hari dan aku tidak memerhatikan. betapa ironinya tentang dunia maya yang selalu berhasil mendistraksi kita dari elemen dari dunia nyata. "kenapa mereka tidak berdamai saja dan berjalan beriringan" pikirku. "kenapa harus saling mendistraksi satu sama lain."
diantara jeruji kayu yang menahannya, dia memerhatikanku sejenak dan lalu kembali bersuara. "kenapa ? apalagi yang menurutmu aku kurang pahami ?". complain ku kepadanya didalam kepala, mencoba untuk menerka---tapi siapa yang tahu tentang maksud mereka yang sebenarnya. begitu juga tentang hidup, kamu tidak akan tahu apa maksud sebenarnya Tuhan menurunkan hujan di daerah mu hari ini sedangkan daerah lain terang benderang, atau kamu tidak akan pernah tahu kenapa Ia menumbuhkan sejumput rumput liar di celah paving block yang kamu injak pada hari ini.
yang bisa kita lakukan memang hanya menerka bahwa itu semua mungkin memiliki suatu maksud. karena semua yang terjadi pasti memiliki sebab. setidaknya begitulah caraku menghadapi dunia selama aku hidup.
dan aku mulai menyadari bahwa satu suara dari 1 burung rumahan akan memicu burung rumahan antah-berantah yang lain untuk bersuara. aku bukan penggemar atau pemelihara burung rumahan. tapi pada sore itu aku belajar memahami mereka. menerka, mungkin lebih tepatnya.
kita sepakat bahwa kebebasan burung ada pada sayapnya. aku membayangkan jika aku menjadi mereka dan berada diposisinya. dibelenggu seumur hidupnya walaupun memiliki sayap, sehingga tidak pernah tahu bagaimana cara menggunakannya. seperti manusia yang tidak pernah tahu fungsi dari kedua belah kaki.
membayangkan diposisinya, tentu aku pasti putus asa. seperti sebuah sensasi dari teori kehidupan sosial panopticon-nya Michael Foucault yang menjadi kenyataan. mengerikan. seperti "yaampun apa yang bisa aku lakukan jika hidup dalam ruangan 60x60x80 cm."
tapi kamu tahu ? setiap burung rumahan itu memiliki semangat hidup yang jauh lebih besar dari yang para manusia milenial miliki ataupun dari apa yang kita bayangkan. ketika para manusia membelenggu mereka untuk dijadikan "pajangan", melumpuhkan kebebasan hidup mereka seperti sayap, cakar, dan paruh. ada satu hal yang tidak akan pernah para manusia itu bisa belenggu: suaranya.
suara dari seekor burung adalah aset ampuh untuk menghipnotis manusia dan kekuatan sejati mereka untuk bertahan hidup. ketika manusia menumpulkan senjata mereka, merenggut kebebasan mereka, membatasi kehidupannya, mendisfungsikan sebagian inderanya, burung rumahan tahu betul cara menanganinya. dia manfaatkan suaranya untuk merampas kembali semua itu.
lagi, aku bayangkan jika aku berada diposisi mereka.
aku membayangkan kalau mereka sedang berkomunikasi satu sama lain. aku akan ambil contoh dari Pidgey dan Rosey 2 ekor burung rumahan yang tidak akan pernah bertemu satu sama lain, terpisah oleh sangkar masing-masing, dipelihara oleh majikan yang berbeda yang mana pada momen ini kuberikan kepada mereka sebuah nama secara sepihak karena aku tidak tahu cara perumpaan lain yang lebih baik.
"Hai" kata Pidgey dalam bahasa burung.
"haai" sahut Rosey dalam suara burung senyap-senyap yang keberadaannya antah-dimana.
sesekali kucoba pahami ketika si Pidgey bersuara---yang mana pidgey adalah perumpaan burung rumahan milik pamanku ini---dan darimana sumber sahutan burung rumahan yang lain itu. dan sahutan itu selalu dominan di beberapa lokasi atau sahutan burung yang sama. suara itu kunamai sebagai Rosey.
sejumput kalimat "hai" yang bisa Pidgey terima, atau sejumput "cuitan" yang mana kita---manusia bisa pahami, maka akan bermakna banyak sekali. satu suara itu bisa mendeskripsikan jenisnya, ukurannya, umurnya, sedikit samar tentang rupanya, kondisi kesehatannya,sampai emosinya.
aku membayangkan disepanjang kehidupan mereka ketika sore hari berkomunikasi seperti itu, saling tukar-informasi atau sekedar bercerita tentang mereka pada hari itu. tentang bagaimana perawakan majikan mereka, tentang bagaimana kabar majikan mereka hari ini, tentang bagaimana rupa tempat mereka tinggal dan dirawat serta lingkungannya, apa yang mereka cemaskan pada hari esok, apa yang mereka pikirkan tentang hari kemarin, apasaja kejadian baik dan buruk yang mereka alami pada hari ini, tentang bagaimana si Harley seekor kucing yang hampir memakan mereka pada hari itu. seperti tentang bagaimana kita mengabari pasangan yang kita cintai masing-masing. parahnya lagi, aku mulai berfikir kalau mereka mungkin saja mampu mencintai satu sama lain tanpa pernah berjumpa.
kupikir tadinya burung rumahan hanyalah seonggok makhluk yang dibelenggu yang hidup putus asa hanya untuk memanjakan manusia lalu kemudian mati, tapi sore itu pandanganku mulai berubah. dia jadikan suaranya sebagai kebebasannya, sebagai sumber kehidupannya, sebagai senjatanya, sebagai inderanya.
dan pada sore itu aku mulai menghargai semangat hidupnya. "tidak salah, kalau burung dijadikan simbol kebebasan oleh manusia." karena kita tidak akan pernah mampu untuk membelenggu mereka. tidak ada yang mampu membelenggu semangat hidup dari seekor burung. sekalipun ia mati, matanya akan selalu menghadap kelangit dan bulunya---jika kamu sentuh---kamu bisa merasakan sedikit hasrat dari semangat hidupnya.
aku meninggalkan gadget ku untuk sedikit lebih lama menikmati momen itu. "orang-orang harus tau apa yang bisa dipetik dari kamu" pikirku. manusia zaman sekarang terlalu cepat menyerah dan berleha-leha dengan keadaan. sedangkan dihalaman mereka ada seekor burung-dalam-sangkar yang sedang berusaha untuk membalikkan keadaan untuk tidak-sekedar-hidup-dalam-ruang-60x60x80cm. yang ironinya impian kita adalah untuk bisa bertahan hidup dalam dunia 10x20cm---yup, gadget kita sendiri. banyak orang ingin mencapai segala sesuatunya dari sebuah gadget.dari yang mulai barang, uang, hiburan, eksistensi, sampai ketenaran. tidak salah menurutku, tapi juga belum benar. kita butuh mengasah indera kita untuk sesuatu yang lebih nyata karena---toh, itu juga buat diri kita sendiri. pernah kubaca sebuah kutipan tulisan yang ditulis oleh novelis terkenal asal brazil bernama Paulo Coelho dalam bukunya yang berjudul "Aleph" : "pelajarilah apa yang terjadi pada dunia, maka kamu akan dapat mempelajari apa yang terjadi pada dirimu."
well, semuanya merupakan sebuah pelajaran hidup yang baik yang bisa kudapatkan selama duduk kurang dari 5 menit di kursi depan halaman rumah dengan media yang hanya sejentik "cuitan" dari seekor burung rumahan. tentu kamu yang membacanya membutuhkan waktu lebih dari 5 menit untuk mendapatkan pelajaran hidup yang kusampaikan. dunia nyata itu luar biasa bukan ?



